gkiichtus.com,- Dalam konteks memberdayakan dan memandirikan ekonomi warga jemaat, maka langkah pertama yang perlu dilakukan Gereja adalah mengubah orientasi Gereja mandiri itu sendiri. Gereja mandiri harus dimulai dengan memandirikan warga jemaatnya. Kalau warga jemaat diberdayakan maka warga jemaatnya akan mandiri. Kalau warga jemaatnya mandiri secara ekonomi, maka mereka pun pasti akan mampu menghidupi bukan saja dirinya dan keluarganya tetapi juga mampu menghidupi Gerejanya.

Atas dasar itulah, Jemaat GKI Ichtus Klasis Nabire harus menjadi fasilitator dan dinamisator yang akan menggerakkan perekonomian warganya. Kalau perekonomian warga jemaatnya bergerak maju, tentu mereka akan sejahtera, dan mereka pun pasti akan bisa menghidupi Gereja. Ada banyak langkah konkrit yang bisa ditempuh Gereja, dalam arti hirarkhis untuk Memberdayakan ekonomi warganya. Langkah pertama yang sangat mungkin dilakukan Gereja, yang tidak memerlukan biaya yang besar adalah memfasilitasi warga jemaatnya. Demikian dikatakan Ketua Jemaat GKI Ichtus Siriwini Pdt.Julianus Johan Ajomi, S.Si,Teol, dalam acara peresmian perahu baru sebagai wujud kerja sama antara Jemaat GKI Ichtus dengan warga jemaatnya, pada hari Sabtu, (12/09/20) bertempat di pantai Yamari Siriwini bawah

Selanjutnya, langkah strategis lain yang bisa dilakukan oleh Jemaat GKI Ichtus kedepannya adalah membentuk Unit Usaha yang berorientasi ekonomi Jemaat. Unit Usaha ini harus dikelolah secara profesional dengan mempercayakan pengelolaannya kepada pihak-pihak yang benar-benar ahli dan profesional, setidaknya pada tingkat manajerialnya, sedangkan untuk pekerjanya bisa direkrut dari warga jemaat yang ada. Tujuan dari unit usaha ini agar Gereja mempunyai penghasilan/ pendapatan yang nantinya bisa dikelolah untuk membantu memperlancar pelayanan Gereja sekaligus membantu Gereja memberdayakan warga jemaatnya.

Dalam hal ini perlu ditegaskan dari awal bahwa Gereja dalam arti hirarkhis tidak boleh menangani unit usaha tersebut secara langsung. Gereja hanya membuat kebijakan dan mengawasi jalannya usaha agar tidak melenceng dari visi dan misi Gereja.

Penanganan unit usaha harus dipercayakan kepada ahlinya, harus dikelolah secara profesional dan harus sesuai dengan kebijakan yang telah digariskan Gereja. Dengan demikian tidak akan terjadi konflik kepentingan, Gereja bisa fokus dengan pelayanannya dan unit usaha bisa berkembang optimal.

Unit usaha ekonomi ini pun bisa membantu umat memperoleh permodalan untuk pengembangan usaha mereka. Hal ini menunjukkan dengan membuka unit usaha Gereja bukan saja mampu meningkatkan pendapatannya tetapi juga bisa membantu warga jemaatnya untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Selama ini ada banyak yang kontra di kalangan warga jemaat mengenai boleh tidaknya Gereja memiliki Unit Usaha Ekonomi. Mereka menilai adanya unit usaha tersebut bisa membuat kontribusi terhadap pelayanan Gereja bisa berkurang, dan itu bukan merupakan tugas Gereja khususnya hirarkhis.

Tidak salah pandangan demikian. Memang tugas utama Gereja adalah memberikan pelayanan yang bersifat gerejawi. Tapi itu tidak berarti Gereja tidak boleh memiliki unit usaha. Gereja justru harus didorong agar mempunyai unit usaha ekonomi.

Hanya saja agar tidak mengganggu pelayanan hirarkhis, unit usaha tersebut tidak boleh dikelolah oleh hirarkhis, tetapi ditangani oleh profesional yang dipekerjakan dan digajih secara layak. Gereja, dalam arti hirarkhis cukup melakukan pengawasan.***by. Unteks.

 

 

 

 3 total views,  1 views today